Jumat, 01 Maret 2013


TUGAS
BIMBINGAN DAN KONSELING SOSIAL
PERSEPSI SOSIAL DAN KOGNISI SOSIAL : MEMAHAMI DUNIA SOSIAL

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.
Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah Bimbingan dan konseling sosial dengan judul ”PERSEPSI SOSIAL DAN KOGNISI SOSIAL : MEMAHAMI DUNIA SOSIAL” Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta.
Terima kasih disampaikan kepada Ibu Enik Nur Kholidah.S.Pd,M.A. selaku dosen mata kuliah Bimbingan dan Konseling Sosial yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.
Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
Yogyakarta, Oktober  2011

Penyusun









BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk social yang sekaligus sebagai makhluk individu maka dalam kehidupanya pun memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain.Adanya perbedaan inilah yang menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek,sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut.
Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya.pada kenyataanya sebagian besar sikap,tinggkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami tentang lingkungannya.
2. Identifikasi Masalah
Dalam hal ini penulis mencoba untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan Persepsi Social dan Kognisi Sosial.
  1. Untuk mengetahui tentang arti atau pengertian dari persepsi,serta mengetahui proses dan sifat persepsi.
  2. Untuk mengetahui jenis atau bentuk dari komunikasi non verbal.
  3. untuk dapat mengetahui maksud dari Atribusi,Elemen sosial,Pembentukan kesan,Manajemen kesan
  4. Untu mengetahui maksud dari Kognisi sosial.
3. Tujuan
Membahas mengenai peranan persepsi dan kognisi dalam kehidupan social,serta keterkaitanya dengan aspek-aspek lain,yang berkaintan dengan individu maupun masyarakat luas.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Persepsi

            MOSKOWITZ & ORGEL Berpendapat bahwa Persepsi merupakan proses pengorganisasian penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakin sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integret dalam diri individu (Psiko Social Bimo Walgito 2003 : 541).
            Menurut Davidoff Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan menginterpretasikan terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu.
            Menurut Gibson Persepsi sebagai suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu.

Proses Persepsi dan Sifat Persepsi
Proses persepsi melalui tiga tahap, yaitu:

1.  Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
2. Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
3. Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.
            Menurut Newcomb (dalam Arindita, 2003), ada beberapa sifat yang menyertai proses persepsi, yaitu:
1. Konstansi (menetap): Dimana individu mempersepsikan seseorang sebagai orang itu sendiri walaupun perilaku yang ditampilkan berbeda-beda.
2.   Selektif: persepsi dipengaruhi oleh keadaan psikologis si perseptor. Dalam arti bahwa banyaknya informasi dalam waktu yang bersamaan dan keterbatasan kemampuan perseptor dalam mengelola dan menyerap informasi tersebut, sehingga hanya informasi tertentu saja yang diterima dan diserap.
3.  Proses organisasi yang selektif: beberapa kumpulan informasi yang sama dapat disusun ke dalam pola-pola menurut cara yang berbeda-beda.
Aspek-aspek Persepsi
          Pada hakekatnya sikap adalah merupakan suatu interelasi dari berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut menurut Allport (dalam Mar'at, 1991) ada tiga yaitu:
1.         Komponen kognitif,Yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut.
2.  Komponen Afektif,Afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.
3.    Komponen Konatif,Yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan obyek sikapnya.
            Persepsilah yang menentukan kita memilih pesan dan mengabaikan pesan yang lain.Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi indiviu semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi dan sebagai konsekuensinya semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas.Perrsepsi meliputi :
1.   Pengindraan (sensasi),melalui alat-alat indra kita (indra perasa,indra peraba,indra pencium,indra pengecap,dan indra pendengar) maka pesan
Dikirim ke otak dan di pelajari.semua indra mempunyai andil dalam komunikasi manusia,penglihatan menyampaikan pesan non verbal ke otak untuk di tafsirkan,penciuman,sentuhan dan pengecapan,terkadang memainkan peran penting dalam berkomunikasi,seperti jabat tanggan yang kua.

2.   Atensi atau Perhatian adalah pemrosesan secara sadar sejumlah kecil infirmasi dari sejumlah besar informasi yang didapatkan dari pengindraan,ingatan,dan proses kognitif lain.Proses atensi membantu efisiensi penggunaan sumber daya mental yang terbatas yang kemudian akan membantu kecepatan reaksi terhadap rangsangan tertentu.
3.   Interpretasi adalah proses komunikasi  lisan atau gerakan atau antara dua atau lebih pembicara yang dapat menggunakan symbol-simbol yang sama,baik secara simultan (dikenal dengan interpretasi simultan) atau berurutan (dikenal sebagiai interpretasi berurutan).
B. Komunikasi Non Verbal
            Yaitu merupakan komulikasi antar individu tanpa melibatkan isi bahasa lisan,namun mengandalkan bahasa-bahasa  non lisan melaluin expresi wajah,kontak mata,dan bahasa tubuh.Perilaku nonverbal relative tidak bias dikekang dan sulit di control.Petunjuk nonverbal yang ditampilkan oleh seseorang dapat mempengaruhi perasaan kita meskipun kita tidak secara sadar memperhatikan petunjuk ini,atau sengaja membaca perasaanya.Saluran komunikasi nonverbal ada 4,yaitu :
  1. Ekspresi Wajah “Wajah adalah Gambaran Jiwa”,Perasaan dan emosi manusia seringkali terbaca di wajahnya dan dapat di kenali melalui berbagai ekspresinya.emosi dasar manusia ada 6 : Marah,Takut,Bahagia,Sedih,Terkejut,Jijik.contoh : orang yang sedang marah maka raut mukanya akan memerah.
  2. Kontak Mata “Mata adalah Jendela Hati”,Kita bisa mengetahui perasaan orang lain melalui tatapan mata.kontak mata yang intensitasnya tinggi bias di interpretasikan sebagai bentuk rasa suka,tetapa ada pengecualian jika seseorang memandangi kita secara terus menerus dan memperhatikan kontak mata tanpa peduli apapun yang sedang dikerjakanya,jenis pandangan ini sering disebut staring(menatap).
  3. Bahasa Tubuh (gesture,postur,dan gerakan).Bahasa tubuh seringkali menggungkapkan emosional seseorang.makin banyak pola gerakan tubuh juga menyerupai makna tersendiri.gesture(sikap tubuh)didalamnya terdapat emblem(gerakan tubuh yang menyaratkan makna khusus menurut budaya tertentu).
  4. Sentuhan,sentuhan merupak suatu hal yang dapat membangkitkan perasaan positif orang yang di sentuh.contohnya Jabat Tangan,Jabat tangan mengungkapkan banyak hal tentang orang lain.misal jabat tangan yang kuat merupakan teknik yang baik untuk menampilkan kesan pertama yang menyenangkan pada orang lain.
C. Atribusi
Yaitu merupakan proses dimana kita mencoba mencari informasi mengenai bagaimana seseorang berbuat dan mengapa mereka berbuat demikian.
Teori Atribusi Harold Kelley,memandang individu sebagai psikologi amatir yang mencoba memahami sebab-sebab yang terjadi pada berbagai peristiwa yang dihadapi,ia mencoba menemukan apa yang menyebabkanya ,atau apa yang mendorong siapa melakukan apa.Respon yang kita berikan pada suatu peristiwa tergantung pada interpretasi kita tentang peristiwa itu.ada 3 sumber informasi penting untuk menjawab mengapa dalam perilaku orang lain,yaitu :
1.   Konsensus,yaitu derajat kesamaan reaksi orang lain terhadap stimulus atau peristiwa tertentu dengan orang yang sedang kita observasi (apakah orang lain bertindak sama seperti penanggap).
2             Konsistensi,yaitu derajat k3esamaan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus atau suatu peristiwa yang berbeda-beda (apakah penanggap bertindak sama pada situasi yang lain).
3.     Distingsi,yaitu derajat perbedaan reaksi seseorang terhadap berbagai stimulus atau peristiwa yang berbeda (apakah orang itu bertindak sama pada situasi lain atau pada saat itu saja.
Kita mengatribusikan perilaku orang lain pada penyebab internal bila (consensus dan distingsi rendah namun konsistensi tinggi),namun sebaliknya,kita mengantribusikan perilaku orang lain pada penyebab eksternal bila(consensus,distingsi dan konsistensi tinggi).
D. Elemen Sosial
Ada 3 elemen yang merupakan petunjuk tidak langsung ketika menilai seseorang :
  1. Elemen pribadi,proses pembentukan persepsi social berdasarkan penilaian pribadi,antara lain yang dilakukan dengan cepat,ketika melihat penampilan fisik,jenis kelamin,suku/ras,status social ekonomi,pekerjaan,dll.contoh,seseorang laki-laki yang menggunakan anting maka akan di persepsikan sebagai orang yang nakal,
  2. Elemen situasi,Semakin banyak atau kaya pengalaman hidup seseorang,semakin bijak persepsi social yang dibentuk dari situasi.contoh,seorang dosen yang berjalan dengan siswanya bila mereka berjalan di kampus ,orang akan menilai itu hanyalah mahasiswanya.tetapi apabila mereka berjalan di bioskop maka orang akan menilai bahwa orang itu selingkuhanya.
  3. Elemen perilaku,Perilaku membutuhkan bukti-bukti yang dapat diamati untuk mengidentifikasi aktivitas seseorang.Ketajaman pengamatan seseorang menentukan persepsi orang lain.orang mengandalkan perilaku nonverbal untuk menguatkan perilakunya,namun hasilnya kadang akurat karena terletak pada kata-kata dan ekspresi wajah.tombol komunikasi sepenuhnya berada dibawah kenali orang yang dinilai,sehinga ia dapat mengatur kata-kata dan ekspresinya.namun isyarat bahasa tubuh dan perubahan intonasi suara merupakan petunjuk yang sangat berharga alam proses persepsi social bersumber paa elemen perilaku.contoh,Penelitian terhadap siswa yang suka ngantuk di dalam kelas,tentunya penelitian itu tidak bisa jika hanya dilakukan satu atau dua kali saja,,maka diperlukan waktu yang cukup banyak atau lama untuk bisa mendapatkan kesimpulan tentang siswa yang suka nagntuk di dalam kelas.

E. Pembentukan Kesan (Impression Formation)
Pembentukan kesan adalah Proses dimana kita membentuk kesan tentang orang lain.pada banyak hasil penelitian,ternyata banyak ditemukan bahwa kesan pertama sangat berpengaruh dan sangat penting dalam kelanjutan persepsi orang lain terhadap kita.Ketika memberi kesan pada suatu sesungguhnya kita tidak memberikan kesan sebagian-sebagian tetapi keseluruhan dari apa yang akan kita beri kesan.Pembentukan kesan pertama kepada orang lain terjadi dalam waktu yang relative pendek.penyebabnya adalah implicit personality theory,yakni kecenderungan menggabungkan beberapa sifst sentral dan peripheral.kesan pertama seringkali salah karena lebih percaya teori sendiri daripada kenyataan.
F. Manajemen Kesan
Yaitu merupakan usaha yang ilakukan seseorang untuk menampilkan kesan pertama yang disukai paa orang lain.Ada 2 bentuk Manajemen Kesan :
  1. Strategi self-enhancenent,Suatu usaha yang dilakukan untuk menampilkan kesan pertama yang disukai pada orang lain.meliputi meningkatkan penampilan fisik melalui gaya berbusana,charisma diri,dan penggunaan atribut sehingga berusaha membuat deskripsi diri yang positif.misal,Pada saat dating ke pesta pernikahan menggunakan pakaian yang rapi,jas misalnya serta menggunakan jam tangan.
  2. Strategi other-enhancement,Suatu upaya untuk membuat orang yang dituju merasa nyaman.misaql dengan pujian (membuat pernyataan yang memuji orang yang kita tuju,sifat-sifat atau kesuksesannya).
G. Pengertian Kognisi Sosial
Kognisi Sosial adalah Kepercayaan seseorang yang didapatkan tentang sesuatu yang didapat dari proses berfikir tentang seseorang/suatu proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktifitas mengingat,memahami,menganalisis,menilai,menalar,membayangkan dan berbahasa.

Menurut Baron & byrne (2000),Kognisi social merupakan cara untuk menganalisis,mengingat,dan menggunakan informasimengenai kejadian atau peristiwa-peristiwa social.dalam menganalisis peristiwa,terdapat 3 proses,yaitu :
  1. Attention : Proses pertama kali dimana individu memperhatikan gejala-gejala social yang ada disekelilingnya.
  2. Encoding : Memasukkan apa yang di perhatikan kedalam memorinya dan menyimpannya.
  3. Retrieval : Apabila kita menemukan gejala yang mirip kita akan mengeluarkan ingatan kita dan membandingkan apabila ternyata sama maka kita bisa mengatakan sesuatu mengenai gejala tersebut atu bisa juga individu mengeluarkan ingatannya ketika akan menceritakan peristiwa yang dialami.
Jadi Kognisi social adalah tatacara kita menginterpretasikan,menganalisa,mengingat,dan menggunakan informasi tentang dunia social.kognisi social dapat terjadi secara otomatis.
  1. Kejadian social dan dampak tingkah laku
            Skema merupakan komponen dasar kognisi.Skema merupakan struktur mental yang membantu kita mengorganisasi informasi social,dan menuntun pemrosesannya.skema berkisar pada sustu tema dan obyek tertentu.dalam otak kita skema merupakan sebuah scenario,yang memiliki alur.skema di otak kita terbentuk berdasarkan pengalaman yang pernah kita alami sendiri atau diceritakan oleh orang lain.
Skema menimbulkan efek yang kuat terhadap 3 proses dasar: perhatian atau atensi (attention), pengkodean (encoding), dan mengingat kembali (retrieval). Skema terbukti berpengaruh terhadap semua aspek dasar kognisi social (Wyer & Srull, 1994). Dalam hubungannya dengan atensi, skema seringkali berperan sebagai penyaring: informasi yang konsisten dengan skema lebih diperhatikan dan lebih mungkin untuk masuk ke dalam kesadaran kita. Informasi yang tidak cocok dengan skema kita seringkali diabaikan (Fiske, 1993), kecuali iinformasi itu sangat ekstrem. Pengkodean—informasi apa yang dimasukkan ke dalam ingatan—informasi yang menjadi focus atensi lebih mungkin untuk disimoan dalam ingatan jangka panjang. Mengingat kembali informasi (retrieval)—informasi apa yang paling siap untuuk diingat—secara umum, orang melaporkan informasi yang konsisten dengan skema mereka, namun kenyataannya, informasi yang tidak konsisten dengan skema juga dapat secara kuat muncul dalam ingatan.
Skema juga memiliki kelemahan (segi negative). Skema mempengaruhi apa yang kita perhatikan, apa yang masuk dalam ingatan kita, dan apa yang kita ingat, sehingga terjadi distorsi pada pemahaman kita terhadap dunia social. Skema memainkan peran penting dalam pembentukan prasangka, dalam pembentukan satu komponen dasar pada stereotip tentang kelompok-kelompok social tertentu. Skema seringkali sulit diubah—skema memiliki efek bertahan (perseverance effect), tidak berubah nahkan ketika menghadapi informasi yang kontradiktif. Kadangkala skjema bisa memberikan efek pemenuhan harapan diri (self-fulfilling) yaitu skema membuat dunia social yang kita alami menjadi konsisten dengan skema yang kita miliki. Contoh efek bertahan, ketika kita gagal kita berusaha menghibur diri sendiri dengan berkata, “kamu hebat kok, ini karena pertandingan yang tidak adil”, dsb. contoh ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri (self-fulfilling prophecy)—ramalan yang membuat ramalan itu sendiri benar-benar terjadi, skema guru untuk siswa yang minoritas yang menyebabkan guru memperlakukan siswa minoritas itu secara berbeda (kurang positif) sehingga menyebabkan prestasi siswa minoritas ini menurun. Stereotip tidak hanya memiliki pengaruh—nsmun bisa melalui efek pemaastian dirinya, stereotip juga membentuk realitas social.
  1. Belajar Sosial
            Manusia tidak lepas dari keadaan lingkungannya (sosialnya),untuk itu mereka akan selalu belajar dari keadaan sosialnya.agar dapat diterima dimana mereka berada.perubahan dari proses belajar adalah jiwa yang mempengaruhi tingkahlaku seseorang.tentu saja tingkah laku yang sesuai dengan keadaan lingkungannya.
  1. Faktor yang menyebabkan ksalahan dalam kognisi social
Bias negativitas, yaitu kecenderungan memberikan perhatian lebih pada informasi yang negative. Dibandingkan dengan informasi positif, satu saja informasi negative akan memiliki pengaruh yang lebih kuat. Contoh: kita diberitahu bahwa dosen yang akan mengajar nanti adalah orang yang pintar, masih muda, ramah, baik hati, cantik, namun diduga terlibat skandal seks. Bias negative menyebabkan kita justru terpaku pada hal yang negative dan mengabaikan hal-hal positif.
Bias optimistic, yaitu suatu predisposisi untuk mengharapkan agar segala sesuatu dapat berakhir baik. Kebanyakan orang percaya bahwa mereka memiliki kemungkinan yang lebih besar dari orang lain untuk mengalami peristiwa negative dan kemungkinan lebih kecil untuk mengalami peristiwa negative. Contoh: pemerintah seringkali mengumumkan rencana yang terlalu optimis mengenai penyelesaian proyek-proyek besar—jalan, bandara baru, dsb. hal ini mencerminkan kesalahan perencanaan. Namun, ketika individu memperkirakan akan menerima umpan balik atau informasi yang mungkin negative dan memiliki konsekuensi penting, tampaknya ia justru sudah bersiap menghadapi hal yang buruk (brancing of loss) dan menunjukkan kebalikan dari pola optimistic: mereka menjadi pesimis.
Kerugian yang mungkin terjadi akibat terlalu banyak berpikir. Terkadang terlalu banyak berpikir dapat menyeret kita ke dalam kesulitan kognoitif yang serius. Mencoba berpikir sistematis dan rasional mengenai hal-hal penting adalah penting.
Pemikiran konterfaktual, yaitu memikirkan sesuatu yang berlawanan dari keadaan sekarang. Efek dari memikirkan “apa yang akan terjadi seandainya…”. Contoh: ketika selamat dari kecelakaan pesawat, Andi justru memikirkan, “bagaimana bila saya tidak langsung terjun tadi, saya sudah mati pastinya, lalu bagaimana nasib keluarga saya sepeninggalan saya?”, dsb. pemikiran konterfaktual dapat secara kuat berpengaruh terhadap afeksi kita. Inaction inertia—kelambanan apatis—muncul ketika individu memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu sehingga kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang positif.
Pemikiran magis, yaitu berpikir dengan melibatkan asumsi yang tidak didasari alasan yang rasional. Contoh: supaya ujian lulu, Raju berdoa banyak-banyak dan memakai banyak cincin.
Menekan pikiran, yaitu usaha untuk mencegah pikiran-pikiran tertentu memasuki   alam kesadaran. Proses ini melibatkan 2 komponen, yaitu: proses pemantauan yang otomatis yang mencari tanda-tanda adanya pemikiran yang tidak diinginkan yang memaksa untul muncul kea lam kesadaran. Ketika pikiran tersebut terdeteksi, proses kedua terjadi, yaitu mencegah agar pikiran tersebut tetap berada di luar kesadaran tanpa mengganggu pikiran yang lain. Contoh:anti yang ikut program diet menekan pikirannya akan makanan-makanan manis.





















BAB III
       PENUTUP
KESIMPULAN
            Pesepsi itu dimiliki oleh setiap individu,artinya setiap dari manusia memiliki cara pandang dan pemahaman yang pasti berbeda dalam melihat suatu obyek di lingkungan kita,baik itu manusia,makhluk hidup lain,ataupun benda mati.Jadi Persepsi merupan suatu proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya.
            persepsi social dapat dilihat dari : Komunikasi nonverbal,Atribusi,Pembentukan kesan,Sejauh mana ketepatan persepsi social itu.keterkaitan antara persepsi social dan kognisi social adalah : Kognisi merupakan implementasi dari persepsi sosial.

SARAN




















DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar