Tampilkan postingan dengan label PTBK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTBK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

“Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri melalui Layanan Penguasaan Konten dengan Teknik Simulation Games Pada Siswa X Mipa 4 SMA Negeri 1 Semarang”.



A.      Latar Belakang

Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang dipercaya untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar didalamnya. Kegiatan belajar mengajar tersebut pada umumnya melibatkan interaksi edukatif antara guru yang mengajar dan siswa yang belajar, guna mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi yang dilakukan antara siswa dengan lingkungan. Salah satu tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh siswa adalah kepercayaan diri.
Kepercayaan diri merupakan salah satu kunci keberhasilan seseorang dan menjadi hal dasar yang penting untuk dikuasai siswa. Kepribadian, kemampuan bersosialisasi, dan kecerdasan bersumber dari rasa percaya diri. Rasa tidak percaya diri seringkali menjadi satu masalah yang sangat merisaukan, baik bagi  siswa, guru dan orang tuanya. Ketidakpercayaan diri pada siswa jika dibiarkan akan menghambat perkembangannya. Apalagi, siswa akan menghadapi kehidupan mendatang yang membutuhkan kekuatan jiwa serta keterampilan pengembangan dirinya. Tanpa adanya rasa percaya diri yang tinggi maka tumbuh kembang seseorang tidak akan optimal. Pradipta (2014:50)  kurangnya percaya diri akan menghambat pengembangan potensi diri. Seseorang yang kurang percaya diri akan menjadi seseorang yang pesimis dalam menghadapi tantangan, takut dan ragu-ragu untuk menyampaikan gagasan, serta bimbang dalam menentukan pilihan dan sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Pongky (2014:46) pada prinsipnya rasa percaya diri itu adalah sebagai pelajaran dan pelatihan yang panjang untuk setiap pribadi manusia.
Namun pada kenyataannya dilapangan, menunjukkan bahwa siswa x mipa 4 sering asik bermain hp pada saat jam pelajaran, tidak memperhatikan guru, tidak berani untuk menjawab pertanyaan, malu bertanya, sering melihat pekerjaan teman dan tidak berani tampil di depan kelas. Perlu adanya upaya

untuk  pengembangan  rasa percaya diri peserta didik yaitu dengan unjuk diri menggunakan teknik  yang menarik tujuannya adalah agar siswa tidak jenuh dan pembelajaran menjadi lebih menarik, sehingga anak dapat tertarik dan rasa percaya diri anak meningkat.
Berdasarkan hasil observasi di SMA N 1 Semarang yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 23 Agustus 2017, peneliti memperoleh beberapa informasi yang berkaitan dengan gejala-gejala permasalahan yang dialami oleh siswa di kelas X Mipa 4 SMA N 1 Semarang, diantaranya siswa hanya diam ketika di tanya oleh guru, tidak mau menyampaikan pendapat, malu bertanya dan melihat pekerjaan temannya.
Hal tersebut didukung juga dengan hasil wawancara dengan guru BK tentang gejala permasalahan yang terjadi, diperoleh informasi bahwa siswa belum mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan secara tepat, hal itu terlihat ketika proses belajar mengajar maupun pelayanan bimbingan konseling siswa tersebut terlihat pasif, Ada beberapa siswa yang memiliki latar belakang ekonomi yang kurang, sedangkan kebanyakan siswa-siswi di SMA N 1 Semarang berasal dari keluarga yang berasal dari latar belakang keluarga menengah keatas, Siswa ragu-ragu ketika menyampaikan pendapat, Siswa malu bertanya ketika belum memahami materi dan Merasa cemas ketika akan menghadapi ulang.
Fakta yang ditemukan peneliti di lapangan, dalam memberikan layanan guru bk tidak menggunakan teknik khusus atau media yang menyenangkan dan menunjang keaktifan siswa, guru masih terkesan mendominasi kelas dengan berceramah sehingga suasana kelas begitu pasif dan kurang menyenangkan. Ditambah lagi jadwal pemberian layanan di kelas x mipa 4 adalah jam terakhir tentu suasana sudah tidak kondusif dan nyaman bagi siswa.
Hasil Studi awal peneliti menunjukkan bahwa 70 % siswa merasa malu ketika menyampaikan pendapat, 61 % siswa merasa binggung berhadapan dengan orang banyak, 33 % mengalami kecemasan ketika akan menghadapi ulangan dan 69 persen lebih suka bekerja secara indiviudal. Selain beberapa temuan diatas, peneliti juga melihat adanya gejala yang nampak pada saat pengisian instrumen assesment kebutuhan, diantaranya: ada beberapa siswa dalam pengisian instrumen melihat pekerjaan temannya, malu  bertanya ketika tidak mengerti, ketika ditanya tidak mau menjawab, dan cenderung diam. Hal tersebut juga terlihat ketika pemberian layanan yang diberikan di kelas X Mipa 4, siswa yang berani bertanya hanya hanya 4 orang, ketika ditanya hanya diam dan sebagian besar takut untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru bk. Fenomena yang di temukan oleh peneliti mengindikasikan bahwa siswa di kelas x mipa 4 memiliki kepercayaan diri yang rendah.
Menurut Angelis  (2005 : 20), indikator dari kurang percaya diri meliputi: rendah diri, rasa malu, rasa takut melakukan sesuatu, frustrasi, perasaan cemas atau bahkan sikap agresif. Gejala tidak percaya diri ini umumnya dianggap sebagai gangguan ringan karena tidak menimbulkan masalah besar. Disadari atau tidak, sebagian besar orang ternyata mengalami gejala tidak percaya diri seperti ini. Salirawati (2012: 219) menambahkan bahwa ciri  lain yang biasanya dimiliki oleh orang yang percaya dirinya rendah adalah selalu dihantui dengan perasaan takut gagal, mudah putus asa, merasa diri tidak mampu dan selalu bimbang atau ragu-ragu dalam memutuskan persoalan.
Ketika seseorang memiliki percaya diri yang rendah akan mengalami keragu raguan dalam melakukan suatu hal dan tidak bisa mengambil keputusan karena takut apa yang dilakukan akan mengalami kegagalan (pesimis), ketika mengalami kegagalan tidak mau berusaha lagi, kurang menghargai diri sendiri, dan cenderung menarik diri dari pergaulan. Hal ini sudah tentu akan menjadi penghambat dalam berinteraksi maupun proses belajar siswa di sekolah.
Rendahnya kepercayaan diri siswa tidak sepenuhnya berasal dari diri siswa, tetapi di pengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya kemampuan guru dalam memberikan materi atau layanan. Observasi yang dilakukan peneliti dan wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa dalam memberikan layanan guru cenderung hanya ceramah, kurang bisa menguasai kelas, tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam layanan serta jarang sekali menggunakan media atau teknik tertentu, sehingga siswa merasa tidak diberikan kesempatan untuk bisa mengembangkan dirinya untuk lebih percaya diri.
Peneliti tertarik untuk membantu siswa meningkatkan kepercayaan dirinya sehingga proses belajar siswa menjadi efektif dan menyenangkan. Karena apabila situasi tersebut dibiarkan dan tidak segera ditangani di khawatirkan hal tersebut akan mengganggu siswa dalam belajarnya, menjalin komunikasi, kehidupan sosial, karir dan hal lainnya yang tentu saja sangat merugikan siswa itu sendiri. Peneliti juga berupaya meningkatkan kualitas kinerjanya dengan menggunakan layanan yang bisa mendorong peran siswa untuk terlibat dan aktif dalam setiap kegiatan, sehingga hal itu bisa menumbuhkan sikap percaya diri pada siswa.
Untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas x mipa 4, dapat dilakukan melalui layanan bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan dan konseling yang bisa diberikan untuk siswa kelas x mipa 4 meliputi layanan informasi, orientasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten,bimbingan kelompok, konseling kelompok dan konseling individu.
Peneliti memilih layanan penguasaan konten karena didalam layanan penguasaan konten siswa diberikan atau diajarkan untuk menguasai suatu keterampilan tertentu yang berkaitan dengan indikator kepercayaan diri. Keterampilan-keterampilan itulah yang diharapkan mampu diterima dan dilaksanakan oleh siswa dari hasil proses pemberian layanan. Penyelenggara layanan (konselor) secara aktif menyajikan bahan, memberikan contoh, merangsang, mendorong, dan menggerakkan (para) peserta untuk berpartisipasi aktif mengikuti dan menjalani materi dan kegiatan layanan.  Dengan hal tersebut tentu siswa akan memiliki kepercayaan diri, karena merasa diperhatikan, diberi kesempatan dan mencoba konten yang di pelajari secara langsung.
Namun untuk mengembangkan atau meningkatkan kepercayaan diri siswa diperlukan lagi suatu teknik khusus yang tepat dan sesuai, peneliti menggunakan teknik simulation games sebagai sebuah teknik yang digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa, melalui permainan simulasi tersebut siswa diarahkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan indikator dari percaya diri itu sendiri.
Simulation games digunakan sebagai sarana untuk memberikan suatu perintah yang sifatnya mengarahkan peserta didik untuk bisa atau mampu menguasai suatu keterampilan tertentu. Pelaksanaan simulation games bisa bersifat pribadi atau kelompok. Diharapkan melalui penggunaan teknik simulation games, peserta didik mampu meningkatkan kepercayaan diri yang ditandai dengan keaktifan bertanya, mandiri dalam belajar maupun mengerjakan tugas, mampu menyampaikan pendapat, bersedia menerima masukan atau kritik dari orang lain.
Menurut penelitian yang dilakukan Wirahanteng (2014) mengenai kepercayaan diri, diketahui bahwa 7,8% siswa mengalami peningkatan kepercayaan diri untuk berbicara di depan kelas setelah diberikan layanan penguasaan konten dengan metode simulasi. Oleh karena itu peneliti merasa teknik permainan simulasi dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa.
Adams dalam Tatiek Romlah (2006: 118) menjelaskan bahwa permainan simulasi adalah permainan yang dimaksud untuk merefleksikan situasi-situasi yang terdapat dalam kehidupan yang sebenarnya. Tetapi situasi itu hampir selalu dimodifikasi, apakah dibuat lebih sederhana, atau diambil sebagian, atau dikeluarkan dari konteksnya. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa situasi yang disimulasikan hendaknya tidak terlalu kompleks dan tidak terlalu sederhana. Menurut Mayke (dalam sudono, 1995), belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya.
Simulation games memiliki banyak sekali macamnya, seperti permainan kartu tantangan, Kartu Peran, toples ajaib, monopoli dan lainnya. Salah satu jenis permainan yang digunakan dalam penelitian ini adalah permainan toples ajaib, Permainan toples ajaib merupakan permainan yang menekankan pada strategi dalam menyusun dan memasukkan benda seperti bola, batu, pasir dan air.
Permainan dalam penelitian ini digunakan untuk membantu meningkatkan ketertarikan dan partisipasi siswa dalam mengikuti layanan karena ketika siswa sudah tertarik dan mau berpartisipasi dalam layanan, maka siswa tersebut sudah menunjukkan hal positif terkait kepercayaan diri. Siswa dilibatkan dalam melakukan permainan, diskusi dan mengamati jalannya permainan sehingga tidak terkesan monoton dan di dominasi oleh guru bk. Peran aktif siswa untuk terlibat dalam kegiatan maka hal itu akan menjadi daya dorong yang positif untuk menumbuhkan kepercayaan diri
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti tertarik untuk membantu siswa meningkatkan kepercayaan diri menggunakan layanan penguasaan konten dengan menggunakan teknik simulation games, maka peneliti mencoba untuk menyusun penelitian tindakan bimbingan dan konseling yang dikemas melalui sebuah penelitian yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri melalui Layanan Penguasaan Konten dengan Teknik Simulation Games Pada Siswa X Mipa 4 SMA Negeri 1 Semarang”.

Sabtu, 15 November 2014

SKRIPSI

KORELASI ANTARA LAYANAN BIMBINGAN SOSIAL DAN KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI DENGAN PENYESUAIAN
DIRI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 3 SENTOLO
KULON PROGO YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN 2013/2014

SKRIPSI




Oleh :
SUPRI WIDYANTO
10144200270



PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2014

Jumat, 01 Maret 2013

makalah metode penelitian survei


Makalah Metode Penelitian Survei

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Seiring berkembangnya zaman, permasalahan demi permasalahaan diberbagai bidang semakin kompleks, sehingga diperlukan suatu cara untuk memecahkan masalah tersebut untuk berbagai kepentingan.
Penelitian merupakan salah satu cara untuk menjawab berbagai permasalahan tersebut.Penelitian adalah suatu proses untuk mencapai (secara sistematis dan didukung oleh data) jawaban terhadap suatu pertanyaan, penyelesaian terhadap permasalahan, atau pemahaman yang dalam terhadap suatu fenomena.
Agar penelitian yang dilakaukan mencapai sasaran yang diinginkan, maka diperlukan suatu metode yang baik yang sesuai dengan permalasalahn yang dikaji. Metode penelitian memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah serta menghadapi tantangan lingkungan dimana pengambilan keputusan harus dilakukan dengan cepat.
Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk mencari jawaban terhadap permasalahan yang diteliti adalah melalui metode survei. Menurut Kerngiler (1996) seperti dikutip oleh Riduwan (2006), “penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel sosiogis maupun psikologis”.
Metode survei bertujuan untuk memperoleh gambaran umum tentang karakteristik atau berbagai aspek populasi yang terkait dengan permasalahan yang dikaji, sehingga metode survei sangat diperlukan. Untuk itu kami membuat makalah tentang penelitian survei ini, untuk memberikan gambaran kepada khalayak ramai tentang apa itu penelitian survei, tujuan, karakteristik, prosedur serta kelebihan dan kekurangan penelitian survai itu.
  
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil, yaitu:
1.      Bagaimana definisi penelitian survai itu?
2.      Bagaimana tujuan penelitian survai ?
3.      Bagimana karakteristik penelitian survai?
4.      Bagaimana prosedur pelaksanaan penelitian survai?
5.      Bagaimana kelebihan dan kekurangan penelitian survai?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu:
1.      Mengidentifikasi definisi penelitian survai.
2.      Mengidentifikasi tujuan penelitian survai.
3.      Mengidentifikasi karakteristik penelitian survai
4.      Mengidentifikasi prosedur pelaksanaan penelitian survai.
5.      Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan penelitian survai.

D.    Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini, yaitu:
1.                   Bagi penyusunmaupun pembaca dapat menambah wawasan dan pemahaman mengenai metode penelitian survai.
2.                  Sebagai salah satu bahan belajar dalam pembelajaran mata kuliah Metodelogi Pelelitian.
  
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Penelitian Survai
Survai biasanya digunakan untuk mengumpulkan informasi dengan pengamatan dan pemeriksaan terhadap suatu subjek. Adapun pengertian penelitian survai menurut para ahli, yaitu :
·         Menurut Muhammad Ali dalam bukunya yang berjudul Metodelogi dan Aplikasi Riset Pendidikan, “Survai pada dasarnya merupakan pemeriksaan secara teliti tentang fakta atau fenomena perilaku dan sosial terhadap subyek dalam jumlah besar. Dalam riset pendidikan, survai bukan semata-mata dilakukan untuk mengumpulkan  data atau informasi, seperti tentang pendapat atau sikap, tetapi juga untuk membuat deskripsi komprehensif maupun untuk menjelaskan hubungan antar berbagai variabel yang diteliti.”(Ali, 2010)
·         Menurut Kerngiler (1996) seperti dikutip oleh Riduwan (2006), “penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel sosioogis maupun psikologis.” (Riduwan, 2009)
·         “Penelitian survai digunakan untuk melakukan penarikan kesimpulan secara umum (generalisasi) dari sampel yang ditentukan. Dalam penelitian ini sampel berfungsi sebagai penduga terhadappopulasi penduga.” (Suryana & Priyatna, 2008)
·         Menurut Singarimbun dan Effendi (1989:3) yang dikutip oleh Purwanto (2010:174), penelitian survai adalah penelitian yang hanya dilakukan atas sampel. (Purwanto, 2010)
·         “Penelitian survai merupakan alternatif metode penelitian lain dari sensus. Sensus adalah penelitian yang dilakukan atas seluruh unsur atau  individu dalam  populasi.” (Purwanto, 2010)
·         “Penelitian survai adalah penelitian yang dilakukan pada populasibesar maupun kecil, data yang dipelajari diambil dari populasi tersebut sehingga dapat ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan antarvariabel, sosiologis maupun psikologis.” (Wirartha, 2006)
·         Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik, dari suatu kelompok atau suatu daerah. (Masyhuri & Zainuddin, 2008)
Jadi, penelitian survai merupakan salah satu jenis metode penelitian deskriptif yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil terhadap fenomena yang berkenaan dengan berbagai aspek populasi tersebut untuk memperoleh informasi yang aktual.

B.     Tujuan Penelitian Survai
Tujuan penelitian survai ditunjukan untuk:
·         mengumpulkan informasi tentang variabel bukan informasi tentang individu-individu. Oleh karna itu, metode ini lebih menekankan pada penentuan informasi tentang variabel daripada informasi tentang individu. (Wirartha, 2006)
·         Survai digunakan untuk mengukur gejala-gejala yang ada tanpa menyelidiki mengapa gejala-gejala tersebut ada. (Wirartha, 2006)
·         Memperoleh gambaran umum tentang karakteristik atau berbagai aspek populasi
·         Mengumpulkan data berkenaan dengan sikap, nilai, kepercayaan, pendapat, kebiasaan, perilaku dan lain-lain
·         Menghasilkan deskripsi beberapa aspek dari populasi dan memerlukan informasi dari subjek yang di pelajari.
·         Mencari informasi faktual secara mendetail yang sedang menggejala
·         Mengidentifikasi masalah-masalah

C.    Ruang Lingkup Penelitian Survai
Survai mempunyai dua lingkup, yaitu sensus dan survai sempel. Sensus adalah survai yang meliputi seluruh populasi yang diinginkan, sedangkan sampel dilakukan hanya pada sebagian kecil suatu populasi. (Wirartha, 2006)

D.    Karakteristik Penelitian Survai
Adapun karakteristik dari penelitian survei, yaitu:
1.      Tujuan utama survei adalah untuk menghasilkan statistik, deskriptif kuantitatif, atau deskripsi dalam angka tentang berbagai aspek populasi yang diteliti.
2.      Cara utama dalam pengumpulan informasi adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada orang yang jawabannya kemudian merupakan daya yang akan dianalisis.
3.      Biasanya informasi itu dikumpulkan dari sebagian saja dari populasi atau sampel, bukan dari seluruh subyek yang menjadi anggota populasi.
Ciri-ciri penelitian deskripsi (survai), (Masyhuri & Zainuddin, 2008):
1.      Memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena
2.      Menerangkan hubungan (korelasi)
3.      Menguji hipotesis yang diajukan
4.      Membuat prediksi (forcase) kejadian
5.      Memberikan arti atau makna atau implikasi pada suatu masalah yang diteliti. Jadi penelitian deskripsi mempunyai cakupan yang lebih luas.

E.     Prosedur Penelitian Survai
Agar diperoleh data atau informasi yang diharapkan, ada beberapa langkah yang sebaiknya ditempuh oleh peneliti dalam pengumpulan data survai terutama yang menggunakan jasa pos, menurut MCMillan &Scumacher (2001)yang dikutip oleh Nana Syaodih Suknadinata (2010), yaitu:
1.      Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus. Langkah pertama dalam pelaksanaan survai, adalah merumuskan tujuan penelitian. Tujuan ini mencakup tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum berisi rumusan yang lebih bersifat umum tentang apa yang ingin dicapai dengan penelitian ini, sedang tujuan khusus berisi rumusan tentang sasaran-sasaran lebih sfesifik yang ingin dicapai.
2.      Memilih sumber dan populasi target. Langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah populasi target yang ingin dicapai. Keluasan wilayah, penyebaran populasi dan besarnya populasi akan mempengaruhi waktu, dana dan jumlah personil yang diperlukan. Berbagai jenis sumber daya ini  perlu dirumuskan bersamaan dengan penentuan populasi target.
3.      Pemilihan teknik dan pengembangan instrumen pengumpulan data. Untuk mendapatkan instrumen pengumpulan data. Untuk mendapatkan data yang objektif dan akurat diperlukan instrumen yang valid atau menghimpun data yang benar-benar ingin dihimpun. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam survai biasanya ada dua macam, yaitu pedoman wawancara dan angket.
4.      Petunjuk pengisian. Petunjuk pengisian sangat penting di dalam pelaksanaan survai, karna dalam survai umumnya pengisian instrumen dilakukan tanpa kehadiran peneliti. Responden mengisi atau menjawab pernyataan sesuai dengan penafsiran dia tentang apa yang ada dalam petunjuk. Petunjuk harus berisi rumusan yang jelas tentang maksud pengedaran angket, serta apa yang harus dikerjakan oleh responden dan bagaimana pengerjaannya.
5.      Penentuan sampel. Pemilihan dan penarikan sampel sangat penting dalam survai. Sampel harus mewakili populasi baik dalam jumlah maupun karakteristiknya. Karakteristik sampel diambil jumlah sampel secara proposional berdasarkan basar populasi. Selain jumlah dan karakteristiknya, dalam survai juga perlu dipertimbangkan kemampuan responden yang menjadi sampel dan memberikan jawaban secara tertulis.
6.      pembuatan alamat. Dalam pengumpulan data yang menggunakan jasa pos, alamat baik respondenmaupun alamat penelitian, sangat memegang peranan penting. Buatlah alamat yang jelas, dan gunakan alamat yang mudah dijangkau oleh petugas dari kantor pos.
7.      Uju coba. Sebelum digunakan untuk menghimpun data dari sampel yang sesungguhnya, sebaiknya diadakan uji coba terlebih dahulu. Uji coba dilakukan terhadap kelompok orang (sampel) dari populasi target, tetapi tidak termasuk sampel yang akan mengisi instrumen pada penelitian sesungguhnya. Uji coba penting  dilakukan untuk mengujicobakaninstrumen, apakah petunjuk pengisisan dan butir-butir pertanyaan dipahami oleh responden, butir-butir pertanyaan nama yang tidak jelas atau menimbulkan penafsiran ganda. Uji coba dilakukan dalam dua bentuk melalui pos dan penyampaian langsung. Uji coba melalui pos selain memberikan masukan tentang kejelasan petunjuk dan rumusan pertanyaan, juga memberikan sampel berapa persen yang mengembalikan angket tepat waktu, terlambat berapa lama dan tidak mengembalikan sama sekali. Uji coba langsung selain memberikan masukan tentang kejelasan petunjuk dan pertanyaan juga laa waktu pengisian.
8.      Tidak lengkap dan tidak mengembalikan. Dalam pelaksanaan survai melalui pos seringkali tidak semua instrumen dapat kembali dan terjawab lengkap. Rata-rata rate yang kembali dan terjawab lengkap adalah 70% dan itu termasuk kurang berhasil dan harus ada kegiatan lanjutan untuk mengirimkan angket pada sampel lainnya.
9.      Tidak lanjut. Apabila jumlah angket yang kembali dan terjawab lengkap kurang dari 70% terutama untuk pengedaran melalui pos, maka harus dilakukan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut dilakukan setelah  satu atau dua minggu dari batas pengembalian angket. Responden yang dikirimi angket dapat orang yang sama tidak mengembalikan, atau responden baru. Kalu bisa dijangkau jawaban yang tidak lengkap, dilengkapi dengan cara mendatangani langsung. Baik pada penyampaian angket yang pertama maupun yang kedua jumlah yang dikirimkan lebih banyak dari besarnya sampel yang diharapkan, biasanya tambahannya sekitar 30% sampai dengan 40%.

F.     Kelebihan Penelitian Survai
Kelebihan dari penelitian survai, yaitu:
1.      Penelitian survai bersifat sebaguna (versatility), dapat digunakan untuk menghimpun data hampir dalam setiap bidang dan permasalahan.
2.      Penggunaan survei cukup efisien (efficiency) dapat menghimpun informasi yang dapat dipercaya dengan biaya yang relatif murah.
3.      Survai menghimpun data tentang populasi yang cukup besar dari sampel yang relatif kecil.
4.      Dapatdigunakanberbagaiteknikpengumpulan data sepertiangket, wawancara, danobservasi

G.    Kekurangan Penelitian Survai
Adapun kekurangan dari penelitian Survai, yaitu:
1.      Mutu informasi sangat bergantung pada kemampuan dan kemauan responden untuk bekerjasama, khususnya jika topik yang sedang diteliti terlalu sensitif
2.      Terlalu sering para responden merasa diharuskan mengajukan opini padahal mereka tidak memilikinya, sehingga keabsahan jawaban menjadi sulit
3.      Para responden juga bisa menerjemahkan pertanyaan atau konsep secara berbeda dari yang dimaksud oleh peneliti

H.    Pendapat mengenai Penelitian Survai
Menurut kami, penelitian survai merupakan penelitian yang tidak begitu rumit dan strukturnya sudah jelas. Apa alasannya? Karena penelitian ini memiliki alur atau tata cara sebagaimana penelitian semestinya. Dimana disini bentuk penelitiannya berupa pengambilan sampel lalu diteliti sikap dan kebiasaannya, dijelaskan pula ketrkaitan antar sampel yang diteliti. Jadi penelitian survei ini lebih menuju  pada informasi yang dihasilkan sampel. Maka dari itu, disitulah kelemahan dari penelitian ini, yang mana sampel diharuskan  memberikan opini atau saran yang akan berakibat pada kejelasan jawaban. Namun efisien di dalam penelitiannya, itulah kelebihan dari penelitian ini.
Karena dari tujuan penelitian ini yaitu menentukan karakteristik, sikap yang diteliti secara fakta yang mendetail, dengan merumuskan masalah-masalah yang ada menjadi suatu hasil dari penelitian survei itu sendiri.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Penelitian survai merupakan salah satu jenis metode penelitian deskriptif  yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil terhadap fenomena yang berkenaan dengan berbagai aspek populasi tersebut untuk memperoleh informasi yang aktual. Cara utama dalam pengumpulan informasi adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada orang yang jawabannya kemudian merupakan daya yang akan dianalisis. Teknik utama yang digunakan dalam pengumpulan data survai adalah bertanya. Penelitian survai ini serbaguna dan cukup efisien digunakan dalam penelitian. Namun penelitian survai ini sangat bergantunga kepada kemampuan dalan kemauan responden untuk bekerjasama.